Kelas Inspirasi Trenggalek

Giat Literasi, Raih Mimpi

Kelas Inspirasi adalah gerakan para profesional turun ke Sekolah Dasar (SD) selama sehari, berbagi cerita dan pengalaman kerja juga motivasi meraih cita-cita. Cerita tersebut akan menjadi bibit untuk para siswa bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka.

Tujuan dari Kelas Inspirasi ini ada dua, yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para profesional, serta agar para profesional, khususnya kelas menengah secara lebih luas, dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan kita.

Me

Kelas Inspirasi ini menjadi solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Hal ini membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan dunia sekolah. Partisipasi para profesional tersebut untuk mengambil cuti sehari dan berbagi pengalamannya bersama anak-anak SD, merupakan partisipasi berbasiskan individu, bukan institusi

Sukarela

Semua pihak yang terlibat mengikuti kegiatan ini dengan penuh kerelaan hati.

Bebas Kepentingan

Kegiatan ini bebas dari relasi dengan institusi perusahaan/lembaga tempat pegiat bekerja.

Tanpa Biaya

Tidak ada biaya, baik yang dipungut dari relawan, sekolah atau siapapun. Tidak juga melibatkan pendanaan dari perusahaan atau lembaga lain.

Siap Belajar

Bersikap terbuka dan saling belajar, baik sekolah, pegiat/relawan dan semua pihak yang terlibat.

Ambil Bagian Langsung

Para pegiat dan juga pihak sekolah selalu siap turun tangan langsung, fokus pada aksi dan dampak bagi siswa dan kemajuan sekolah.

Siap Bersilaturahmi

Terbuka untuk membangun silaturahmi baik relawan maupun sekolah.

Tulus

Semua pihak percaya bahwa ini bukan tentang diri relawan, bukan tentang pengurus sekolah, tetapi demi anak-anak Indonesia yang akan lebih percaya diri demi menyonsong cita-cita mereka.

0
kelas inspirasi
0
sd sasaran
0
relawan terlibat
0
murid terinspirasi
  • Kelas Inspirasi Trenggalek #4: SDN 3 Margomulyo



    “Siapakah orang yang paling bahagia? Orang yang membuat orang lain bahagia.”
    @NUgarislucu


    Saat itu, 30 Maret 2018. Setelah briefing akbar kami bersama-sama menuju ke Zona Inspirasi yaitu SDN 03 Margomulyo. Dengan mengendarai motor kami menuju ke tempat Bapak Lurah Margomulyo, dimana nanti kita akan menyusun strategi untuk pelaksanaan hari inspirasi sekaligus bermalam disana. Terimakasih kepada Bapak Lurah yang telah menampung dan menyediakan tempat yang aman dan nyaman untuk kami, rombel SDN 3 Margomulyo yang terdiri dari lebih dari 10 orang ( sebagian datang langsung pas hari H soalnya ). Sebenarnya sih lengkapnya ada 15 orang, aku sebutin deh. Relawan pengajar, ada Kak Ayuani, Kak Devid, Kak Yoga, Kak Pram, Kak Mega. Relawan dokumentatornya ada banyak, Kak Andi, Kak Ahmed, Kak Aim, Kak Andrias, Kak Umam, Kak Yulia, Kak Ilham. Fasilitatornya gak kalah kece, ada Kak April, Kak Elmi, Kak Safitri, Kak Suwanto. Karena Kelas Inspirasi Trenggalek #4 di kecamatan Watulimo yang banyak akan pantainya,  sore hari kita menyempatkan pergi ke Pantai Prigi, 360 bro. Yaaa… itung-itung jalan-jalan sambil nyunset. hehee

    Pagi hari, 31 Maret 2018 kami bersiap-siap menuju ke SDN 3 Margomulyo. Kita antri mandi dari subuh. Wkwkwk. Sedikit membuka aib, kita pergi ke sekolah tanpa sarapan waktu itu. Wkwkwk karena ada sedikit salah paham (maaf curcol). Tapi meskipun hanya mengisi perut dengan air putih dan roti yang di dapat dari briefing kemarin, kita semangat untuk tetap menginspirasi adik-adik di SDN 3 Margomulyo. Bismillah.. acara dimulai dengan upacara, kemudian masuk ke kelas masing-masing. Para Relpeng dan reldok bersiap untuk menggunakan senjata andalannya. Kakak-kakak relpeng menginspirasi sesuai dengan profesi masing-masing, kakak-kakak reldok mengabadikan setiap momen yang ada, kakak-kakak fasil membantu setiap pelaksanaannya jika masih ada yang kurang.

    Kelas Inspirasi Trenggalek #4 mengambil tema “Mengukir mimpi anak pesisir” dan menyisipkan  Permainan Tradisional, kami diharuskan memainkan permainan tradisional di zona inspirasi. Di kelas, kakak relawan pengajar juga menyelipkan permainan tradisional. Ketika istirahat, kami bermain permainan tradisional di lapangan bersama adik-adik. Semua tampak happy !! heheee. Lelah, letih, lesu, lunglai saat itu rasanya telah tertutupi. Kami bahagia bisa melihat tawa lepas anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa ini. Dua kata, ‘KAMI BAHAGIA’. Setelah semua telah dilaksanakan, mau tidak mau, suka tidak suka, memang kami harus pamit undur diri dihadapan keluarga besar SDN 03 Margomulyo. Terima kasih, SDN 03 Margomulyo telah mengijinkan kami untuk menginspirasi, dan  terimakasih untuk salak dan dukunya. Hehee, buanyak ( dipangan 7 dino ga entek ). Alhamdulillah… meskipun banyak yang pengen duren sih sebenarnya. Hahaa ( duren e beli sendiri wae. Wkwkwk )

    Dari zona Inspirasi, kami langsung menuju ke kantor Kecamatan Watulimo untuk mengikuti Refleksi (rencananya). Realitanya, kami mampir dulu ke tempat Pak Lurah untuk Istirahat. Saking asyiknya, kita jadi malas untuk pergi ke tempat refleksi. Hahaaa… sampai-sampai, salah seorang panitia, yang berinisial ‘Mbak Dallin’ datang dengan wajah menyeramkan. Ia meminta kita untuk segera berangkat ke tempat refleksi. Okelah !! budal !!! Saat refleksi.. emmmm.. gausah di ceritain deh ya. Nanti kepanjangan. Wkwkwkw. Wis bar iku, kita kembali ke rumah Pak Lurah, beres-beres sama pamitan untuk kembali ke habitat masing-masing.

    Satu hari memang bukan waktu yang lama, tapi satu hari kali ini sangat berkesan dan tak akan terlupakan. Terima kasih telah meyempatkan waktu disela kesibukan untuk menginspirasi adik-adik Trenggalek.

  • Kelas Inspirasi Trenggalek #4: MI Muhammadiyah Dukuh



    Duduk ditemani secangkir kopi, mendung juga menemaniku untuk mengingat kegiatan beberapa waktu lalu. Apalagi jika bukan Kelas Inspirasi, tapi KI kota mana ya yang bakalan aku ceritakan? So pasti yang bakalan aku ceritakan adalah Kelas Inspirasi Trenggalek dong hehehe

    Dari tahun ke tahun, kota ini selalu menarik perhatian aku entah itu dari segi wisata ataupun kulinernya hahahhaa. Dan ketika aku mendapat info tentang open recruitment pengajar dan dokumentator pastinya aku antusias banget dong padahal belum tentu lolos ye kan? Wkwkwk

    Kumulai mengisi form yang terlampir, hingga tersubmit dan tinggal menunggu waktu pengumuman aja. Hampir 1 bulan aku menunggu pengumuman dan finally tiba tanggal pengumuman. Satu per satu kulihat nama-nama relawan yang lolos and then ada nama aku dong disitu, kebayang kan yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari akhirnya bisa terwujud dan pastinya seneng banget.

    Tiba saatnya pembagian rombel, lah lah lah kok rombel isinya orang-orang gesrek? Hahahha…tapi aku bahagia sih dapat rombel kek mereka ☺ dan di rombel ini aku diamanahi sebagai ketua rombel, hmm hmm hmm. Virmeet demi virmeet kita lakukan, diawal perjanjian virmeet dimulai pukul 20.00 hingga 22.00 eh lama kelamaan jadinya anytime and everytime mau pagi, siang, sore malem, dini hari pun ayo aja asal masih melek hahahaha.

    Drama dalam rombel pun terjadi, KI tanpa drama itu hambar chuy wkwkwk. Tapi sedrama apapun kalo kena rombel kita mah libas abis, pasti yang bikin drama kena drama juga hahahha.

    Semakin mendekati hari H bukannya makin hectic tapi makin gila.

    Briefing pun dilaksanakan H-1 tepatnya tanggal 30 Maret 2018, semua relawan di grup sudah mulai koordinasi dong dengan fasil untuk akomodasi dll. Dan aku sendiri hectic gara-gara bus yang kunaikin jalannya lelet setengah mati hiks ☹ telat dating dan gak ikutan briefing tapi untungnya gak ditinggalin dong hehe

    Istimewanya KI kali ini adalah, kita dijemput oleh kepala sekolahnya langsung lho dan disetirin juga sama kepseknya…ya allah, kita gak durhaka kan ya? Tapi seriusan pihak sekolah ini respect banget.

    Badan sudah mulai lelah akibat dilempat kesana kemari sama bus yang kunaiki, ketika sudah sampai di meeting point aku mulai lega dong ya, dalam hati berkata “Alhamdulillah, sudah sampek”. Eeh ternyata masih harus melakukan perjalan ke sekolah yang masih membutuhkan waktu 1 jam ☹

    MI Muhammadiyah Dukuh adalah lokasi yang akan kita tuju, berada di Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Selama diperjalanan mendekati lokasi disinilah letaknya saya harus banyak-banyak baca shalawat, bagaimana tidak? Medannya chuuuyyy, aduhai sekali. Jalan menanjak dan berbelok bagaikan lagunya Tayo hahaha. Kanan kiri jurang, sungguh perjalan KI yang paling ekstrem nih.
    And finally, kita sampai disekolah dan ketika melihat layar handphone. OMG, gaada signal satu pun ☹ untung waktu dibawah masih bisa ngabarin orang rumah hehehe. Satu per satu semuanya mulai terkumpul.

    Dan ini juga istimewanya rombel kita, after sholat maghrib selesai Kepala sekolah dan penjaga sekolah balik ke sekolah lagi dengan membawa sesuatu, kalian tau apa yang mereka bawa? Bantal dan guling lhooo, ini baru KI pertama aku disediain bantal guling buat tidur hahahaha…istimewa kan?

    Nasi Geggok kesukaanku menjadi pembuka malam kita *tsaaah. After makan malam, kita mulai briefing untung persiapan esok pagi. Dan lagi lagi aku diminta jadi instruktur flashmob dong huhuhu, tapi kali ini gak sendirian kok, untung ada Kak Dian yang siap menemaniku. Malam itu kita mulai latihan Goyang Maumere bersama-sama hingga semuanya lelah dan harus mengistirahatkan badannya demi semangat untuk adik-adik MIM Dukuh.

    Suara kokok ayam mulai terdengar, menandakan pagi sudah mulai tiba. Satu per satu relawan menyiapkan diri. Satu per satu murid-murid pun mulai berdatangan.

    Tepat pukul 07.00 Apel pagi dimulai, kita memperkenal diri supaya mereka gak takut dengan kita hehehe…pagi ini kita mulai dengan Goyang Maumere, eh ternyata mereka antusias sekali dan minta di goyang lagi. Sudah 2x kita goyang, masih minta lagi…sudah ya dek, kakaknya yang sudah gak kuat hahahaha.

    Mulai memasuki kelas, ternyata ada yang berbeda. Apakah itu? Kebiasaan mereka setiap pagi adalah Mengaji bersama. Dengarnya tuh jadi adeeeemmm banget.

    Sesi 1 dimulai, semua relawan mulai memasuki kelas masing-masing untuk memberikan inspirasi mereka melalui profesinya.
    Ketika jam istirahat, kita bermain-main dengan adik-adiknya. Kita juga membuat permainan tradisional salah satunya Ular Tangga. Ditengah permainan ada relawan pengajar yaitu Kak Dendit yang niat banget bawa Gitar dan Bass buat ngehibur adik-adik, guru, dan kita juga pastinya hehehe

    Lanjut sesi 2 dan sesi 3 ya, masuk kelas lagiiiiii.

    Di sesi 3 ini juga pastinya kita melakukan closing, ngereview lagi mengenai cita-cita mereka. Memang berbagai macam sih, yang pasti kita tau dokter, polisi, tentara itu masih ada diantaranya ☺

    Closing ceremony, rombel MIM Dukuh ini adalah rombel ter-ter menurutku. Ter-Kreatif lebih tepat kuungkapkan buat mereka. Kenapa ter-Kreatif? Ya gimana gak kreatif, untuk closing ceremony aja kita berhasil mengajak adik-adik serta guru-gurunya untuk kumpul di lapangan dibawah terik matahari untuk menyanyi bersama. Dan ini adalah pengalaman closing ceremony pertama yang aku lakukan dengan sangat keren.

    Banyak pengalaman yang aku dapat dari kegiatan kali ini. kerjasama, kekeluargaan, kreatifitas, kenyamanan semua bisa aku temukan. Dan KI Trenggalek 4 tidak akan aku lupakan, karena after kegiatan ini aku bisa menemukan sesuatu yang sudah ditunggu sejak lama ☺
    Terima kasih mas Rangga, Mbak Habibah, dan mbak Yeni yang sudah memfasilitasi kegiatan ini.Terima kasih Mbak Daniar (Apoteker), Mbak Dian (Quality Control), Mas Dendit (Insinyur), Mbak Bariroh (SPV)), Mas Rifqi (instruktur Desain),Mbak Fitria (Kaprodi Ekonomi Syariah). Terima kasih juga aku ucapkan untuk para dokumentator Mas Zakariya, Mbak Tantri, Mbak Dita, Mbak Salma, Mas Romi dan Mas Rizal. Kalian semua LUAR BIASA dan kalian semua ISTIMEWA.

    Semoga silaturahmi kita tetap berjalan, dan kita segera dipertemukan di Back To School yang akan datang.

    Big LOVE

    Rini

  • Kelas Inspirasi Trenggalek #4: MI Watuagung



    Aku terbangun dari tidur tampanku mati suriku. Kesibukan sahabatku dan perjalanan panjang yang kami lalui ini membuatku harus menutup mata untuk sekian hari. Aku yakin, dengan energi yang tertanam dalam diriku akan mampu membuatku membuka mata selama setengah hari kedepan. Retinaku yang aktif ini tiba-tiba termanjakan oleh pemandangan hijau perbukitan yang mengeilingi kota yang sebelumnya takku ketahui ini,hingga pernah terbatin di hati “Trenggalek itu mana?”.

    Akhirnya, inilah Trenggalek, kota kecil dengan segala ciri khasnya yang belum pernah ku temui di kota-kota lain. Penduduknya yang ramah membuatku ingin tersenyum walaupun itu hanya dapat kulakukan dalam hati. Kami tak sabar untuk sampai di tempat yang kami tuju. Kami rindu untuk sebuah hari, di mana dengan adanya kami akan ada pula sebuah goresan berarti untuk para sahabat-sahabat kecil kami. Sedikit goresan yang akan terukir di hati mereka untuk tetap menjaga semangat jiwa dalam meraih cita-cita luhur dan kenangan indah massa kecil. Kenangan sederhana yang kami harap bisa mengubah negeri ini menjadi lebih baik melalui tangan-tangan kecil itu.

    Masih jelas terekam di mataku, kenangan-kenangan tentang Kelas Inspirasi Trenggalek ke 4 ini, yang memiliki jargon “Mengukir mimpi anak pesisir”. Segala yang ada di sana masih melekat di memori. Setelah sampai di lokasi briefing pertama, kami istirahat sejenak bersama kawan-kawan lama dan kenalan baru. Senyum dan rangkulan mereka membuat diri ini lupa bagaimana lelahnya perjalanan yang diwarnai segala kerusuhannya. Pelangi di atas gedung pertemuan itu seolah menyemangati, sangat kebetulan bukan. Inilah bukti bahwa kegiatan ini sudah mendapat rahmat dari-Nya. Namun sayangnya aku tak sempat mengabadikannya. Singkat cerita, rombel kami yaitu MI Watuagung telah siap berangkat ke lokasi sekolah. Ada kakak-kakak tim relawan pengajar yaitu Kak Ve, Kak Sis, Kak Indah kakak cantik apoteker, Kak Denok, dan Kak Tara. Kakak-kakak tim relawan dokumentator yaitu Kak Apri, Kak Ito dan Kak Fiqoh. Kakak- kakak fasil yaitu Kak Wulan, Kak Dewi, Kak Sandhy, dan Kak Karlina. Untuk yang lain yaitu Kak Rigar, Kak Riza dan Kak Arum akan menyusul. Sedangkan Kak Ipul dan Kak Sigit sudah stay lebih dahulu di kediaman Bapak Kepala sekolah. Tak lupa, kami para pesawat rumit pengabdi baterai dan kartu memori yang siap mengabadikan kejadian menarik di hari inspirasi esok. Langkah yang selalu diiringi do’a inipun dimulai pada pukul 17.00 pada tanggal 30 Maret 2018.

    Setelah menempuh perjalanan selama satu seperemat jam, akhirnya jalan yang cukup membuat tahan napas itupun membawa kami ke rumah Bapak kepala sekolah MI Watuagung yaitu Bapak Mustarom. Petualangan yang dibumbui banyak kejutan inilah yang membawa kami ke tempat yang kami nanti-nantikan. Banyak kejadian di luar kendali mulai dari motor mogok salah satu fasil, dan ada juga makhluk dimensi tetangga yang ngajak “kenalan” hihi. Setelah sesi ramah tamah, ishoma dan mandi yang tentu saja antri akhirnya aksi kami dimulai.Berlatarkan ruang tamu rumah beliau, bau khas pedesaan yang segar menemani kami untuk membuat head piece dan perlengkapan laindari bahan dan alat yang telah disediakan oleh Kakak-kakak fasil. Ada daun nangka segar, staples, name tag, alat tulis dan kroni-kroninya. Lipat sedikit, tumpuk sedikit dan satukan dengan staples. Jadi!
    Tak terasa kebersamaan kami telah sampailah pada saatnya kantuk melanda. Dinginnya angin malam yang menerpa kulit menandakan hari sudah larut. Kami pun segera bergegas untuk tidur, ada yang hijrah ke mushola, ada yang di ruang tamu, ada pula yang tetap bertahan di teras rumah.

    Gemericik sungai  yang tenang menemani langkah kami untuk siap-siap berangkat ke sekolah. Kami yang sudah rapi dalam segala hal telah siap untuk menyambut hari ini. Bateraiku sudah 100%, lensaku jernih tanpa ada jamur yang mengusik. Hanya dalam beberapa menit rombongan ini telah sampai di pintu masuk MI Watuagung. Senyuman tulus dari para adik-adik MI langsung menyambut kedatangan kami walaupun ada sebagian dari mereka yang ketakutan karena mengira bahwa kami adalah petugas kesehatan yang akan mengadakan imunisasi. Pukul 7 pagi, kami melakukan briefing dan do’a bersama terlebih dahulu di ruang kepala sekolah. Para guru sibuk untuk mengondisikan anak didik agar tertib berbaris di lapangan. Upacara pembukaan Hari Inspirasi Rombel MI Watuagung pun dimulai. Inilah awal momen yang kunantikan.

    Pukul setengah 8 pagi, semua siswa telah merapat ke kelasnya masing-masing. Kami semua sibuk dengan tugas masing-masing. Banyak momen yang kusukai di waktu ini. Para relawan pengajar yang secara bergantian memasuki kelas, semangat mereka dalam menginspirasi para sahabat kecil. Keantusiaan anak-anak dalam memperhatikan celotehan kakak-kakak di kelas. Senyum tulus mereka dalam menanggapi hal yang mereka anggap baru dan menarik. Hilir mudik para dokumentator dan fasil.Celoteh dan tawa bahagia kami saat sesi outdor mengalir begitu saja. Ternyata banyak juga anak jaman sekarang yang belum kenal dengan permainan tradisional mulai dari cubak-cublak suweng, ular naga, engklek, jamuran, dan beberapa lainnya. Tema yang telah diputuskan para panitia dirasa sangat pas dengan kondisi saat ini. Memang benar Hari Inspirasi adalah hari yang istimewa. Yang awalnya tidak kenal menjadi kenal, yang awalnya canggung menjadi akrab. Tawa adalah tawa itu sendiri tangis adalah tangis itu sendiri.

    Uang dan kekayaan tiba-tiba tidak seberarti di kota. 
    Canda dan tawa tiba-tiba tidak lagi sepura-pura di kota. 
    Persahabatan tiba-tiba tidak lagi sepalsu di kota. (Fiersa Bestari)

    Tawa dari beberapa para sahabat kecil tiba-tiba berubah menjadi tangis saat para tim inspirasi harus pamit pulang. Sesi penutupan diisi dengan penulisan pohon cita-cita, para siswa dengan bergantian menuliskan cita-cita mereka, semuanya hebat, mereka semua adalah raja dan kita adalah prajuritnya. Sebagai orang dewasa kita harus melindungi semangat mereka. Yang bisa kami lakukan saat itu hanyalah memberi pelukan dan pesan agar mereka lebih semangat belajarnya, lebih semangat sekolahnya agar suatu saat cita-cita mereka tercapai. Kelas Inspirasi adalah secuil wadah yang tepat untuk menyalurkan kepedulian kita pada dunia pendidikan. Satu hari cuti kita, sangat berharga bagi mereka. Salam Inspirasi! Sehari mengajar, selamanya menginspirasi!





  • Kelas Inspirasi Trenggalek #4: Rombongan Belajar SDN 3 Karanggandu



    Salah satu surel yang diterima pada 03 Maret 2018 merupakan surel yang menggembirakan bagi para terpilih menjadi relawan dalam Kelas Inspirasi Trenggalek 4. Itu lah kami, 15 orang muda mudi (terdiri dari 10 relawan pengajar dan 5 relawan dokumentator) yang dikumpulkan dalam sebuah grup whatsapp oleh 4 fasilitator, untuk rombel SDN 3 Karanggandu. Dan….di balik setiap kegiatan yang memungkinkan kita bertemu dengan orang-orang baru dalam kelompok, akan timbul pertanyaan “siapa yang akan ditemui nanti? apa profesi rekan-rekanku? mau terlibat seperti apa aku dalam kelompok? sudahkah aku mempersiapkan mental dan metode yang tepat untuk menyampaikan profesiku?”, juga…jujurlah wahai pemuda pemudi bahwa mungkin saja terdapat pertanyaan “akankah aku bisa memiliki teman-teman baru, relasi baru, pacar baru (*ups…), atau…….. mungkin jodoh?”. Akh….ini pasti akan menjadi topik bully atau bahkan bisa menjadi kenyataan nantinya, he he.

    Pembahasan demi pembahasan kami jalani secara “long distance communication” (bukan LDR yes…). Dimulai dengan aturan percakapan, pembentukan ketua dan lainnya, pengemasan acara, penanggung jawab, pembagian tugas perlengkapan, dan lain-lain. Semuanya berjalan lancar dan akur karena bisa saling percaya, walaupun pada saat mendekati hari keberangkatan, terdapat 2 relawan pengajar yang mengundurkan diri. Dan jadilah kami menjadi 13 orang relawan, dengan mayoritas profesi dan asal keberangkatan berbeda-beda.

    Singkat cerita, 30 Maret 2018 kami berangkat menuju Trenggalek untuk pelaksanaan briefing akbar. Kak Candra mengarungi ribuan kilometer melalui rel-rel kereta api yang lebarnya hanya 143,5 cm, dari bumi Jawa Barat, yang sebelumnya sempat jalan-jalan ke Kertosono; Kak Cicil (sendirian) yang sempat “linglung” dengan istilah “bangjo” dan Kak Nanda (bersama teman dari rombel lain) yang sempat kelaparan karena belum sarapan, menggunakan bus estafet dari Terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya – Terminal Tulungagung – bangjo Kedunglurah, Trenggalek dengan tingkat kesesakan khas high season karena sedang libur tanggal merah. Bagi yang tidak terbiasa dengan kata “bangjo”, berikut penjelasannya: “bangjo = abang ijo = merah hijau = lampu merah = light traffic, panjang ya. Ada juga Kak Aryo dan Kak Dwi yang berangkat dari Wonogiri pada Pkl. 07.00 WIB, menggunakan sepeda motor mendaki bukit mengarungi lembah. Walaupun sempat nyaris “nyasar” ke Kediri, namun pada akhirnya selamat tiba di lokasi pada Pkl. 11.00 WIB. Sebegitu cepatnya waktu tempuh, rupanya mereka menggunakan kecepatan 80 – 100 km/jam, bisa jadi sebenarnya mereka adalah “unpublished racer” he he he. Ada juga Kak Intan yang berangkat dari Kediri menggunakan sepeda motor berbarengan dengan rekan-rekan relawan dari rombel lain, wonder woman bukan? Kak Lian yang seorang wanita dan berasal dari Trenggalek juga menggunakan sepeda motor. Juga kisah-kisah seru perjalanan Kak Zain, Kak Irul (Surabaya), Kak Wisang (Malang), Kak Hery (Pacitan), serta Kak Fintya (Trenggalek) yang semuanya tiba di lokasi dengan selamat. Disinilah kami, yang pada akhirnya bisa saling mengenal secara fisik (positif thinking, please). Dihitung-hitung, rupanya kami ketinggalan 1 orang, ya, rupanya Kak Munica dari Kediri belum tiba, informasinya akan menyusul. Jika demikian adanya, maka selesai briefing kami pun berangkat menuju lokasi inspirasi bersama-sama menggunakan mobil sponsor dadakan tanpa proposal (alias numpang) dari Kak Fintya dan Kak Hery.

    Sepanjang perjalanan kami dibuat kagum, bukan hanya pemandangannya tapi juga jalannya yang meliuk-liuk curam dan terjal. Tersihir oleh pemandangan yang indah-indah, kami mulai teracuni untuk singgah ke pantai Damas, merencanakan untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Dan…disinilah kami mendamparkan diri di pantai tenang dengan pasir putih dan deretan pohon kelapa, yang rupa-rupanya bukan spot yang tepat untuk menyaksikan matahari terbenam karena berada di arah yang berlawanan. Namun demikian, kami masih bisa menyaksikan biasan warna jingga kemerahan di langit dari kombinasi hamburan rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi, yang menandakan matahari dalam proses terbenam di ufuk barat. Lalu kami menikmati indahnya bulan purnama yang memantulkan cahayanya di pantai ini. Pada saat-saat indah yang demikian, kami teringat pada 3 relawan bersama Kak Denok selaku fasilitator, dan Kak Abid sebagai suhu arah yang masih berada di jalan dengan sepeda motor, serta Kak Hery dan Kak Karin yang tadinya mengambil konsumsi, ups... Kami tersadar bahwa kami belum terkumpul sepenuhnya, dan kami juga sangat sadar bahwa kelompok ini super narsis hingga tenda dan api unggun yang dibuat oleh para muda-mudi yang kami temui disanapun kami jadikan landscape untuk berfoto ria. Sambil terus berkomunikasi menyampaikan lokasi keberadaan, pada akhirnya mereka menemukan kami dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi menginap (rumah warga) setelah menjalankan ibadah shalat magrib. Jalan menuju lokasi cukup sempit dan terjal, sehingga sangat menantang, terlebih mobil yang kami tumpangi memiliki badan yang cukup besar dan panjang, namun demikian kami tiba dengan selamat. Selepas berkenalan dengan pemilik rumah, tim kami bekerjasama untuk menyelesaikan segala perlengkapan acara untuk besok harinya. Merasakan ada yang kurang, kami mengingat kembali bahwa Kak Munica belum juga tiba. Beliau mengabarkan bahwa akan hadir besok langsung di sekolah sebelum acara dimulai. Baiklah….kami percaya bahwa ia akan menemukan jalan menuju tempat ini dengan baik.

    31 Maret 2018, bangun subuh, mandi bergilir, air segar menggelegar ditambah pasokan udara sangat besar dari jendela kamar mandi. Kami siap, dan menuju sekolah. Berkenalan dengan pihak sekolah, acara pembukaan, hingga penggiringan siswa ke kelas berjalan dengan baik dan lancar. Dan salah satu kabar baik pagi itu adalah, Kak Munica tiba dengan selamat dalam balutan wajah sumringah khas traveler dan dalam penampakan sebagai seorang pria, kami panggil dia Kak Nico. Kemudian, masing-masing relawan memasuki kelas sesuai jadwalnya masing-masing, memberikan gambaran profesinya dan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mencapai cita-citanya. Sungguh bangga melihat para tunas muda ini tidak takut untuk memiliki cita-cita, diantaranya petani, koki, dokter, TNI, polisi, pembalap, guru, pilot, astronot, dan masih banyak lagi. Guru-guru pun tak kalah antusias, kami bahkan dijamu dengan bermacam-macam penganan seperti salak dan kripik tempe yang merupakan hasil lokal Trenggalek. Tim kami sepakat, bahwa berbagi kasih, inspirasi, dan motivasi dalam kegiatan ini nyatanya membawa keceriaan dan kebahagiaan bagi semua. Kak Lian membahasakannya sebagai energi positif, yang bukan hanya untuk para siswa, guru, namun juga bagi para relawan itu sendiri. Penutupan berjalan dengan lancar dan berkesan, dan disinilah kami mengerti bahwa sebagian besar manusia dalam kelompok kami adalah pecinta drama Korea, dan hasilnya “pose saranghaeyo”.

    Selepas kegiatan usai, kami kembali ke tempat menginap dan dari jarak 10 meter, kami bisa mencium aroma yang sangat familiar, yaitu durian. Akh…rupanya di teras telah tersedia durian masak dengan ukuran yang cukup besar. Apakah kami “jaim”? oh tentu saja tidak…alias langsung menyerbu, ha ha ha. Nikmatnya hidup di desa, bisa makan buah-buahan gratis, he he. Yup, tak bisa lama-lama karena kami harus segera menuju lokasi refleksi. Dan dalam perjalanan, kami harus berpisah dengan Kak Wisang dan Kak Intan yang memiliki rute berbeda. Namun rupanya (selalu saja)…kami singgah terlebih dahulu di Pantai Mutiara, bersenda gurau, berfoto ria, bahkan…ada yang sempat berenang. Hasilnya? Kami terlambat untuk mengikuti refleksi, he he. Namun demikian, semua berjalan lancar hingga saatnya kita berpisah, namun mayoritas tidak langsung kembali ke kota asal masing-masing, seperti Kak Cicil yang menginap di rumah Kak Lian dan sempat mencicipi nasi pindang, atau Kak Aryo, Kak Dwi, dan Kak Nanda yang juga jalan-jalan dulu menikmati alam Trenggalek dan kemudian mampir di rumah Kak Lutfi dengan keluarganya yang super ramah, serta menginap di rumah Kak Abid, sang fasilitator. Begitu pula Kak Zain yang masih akan mengarungi pantai-pantai Trenggalek bersama rekan-rekan dari rombel lain. Secara fisik saat itu kami berpisah, namun kami masih disatukan dalam grup WA yang tak pernah sepi he he, dan akan bertemu lagi di lain waktu di momen entah pribadi entah resmi, di lain tempat. Seperti kata Kak Aryo, “pertemuan kami adalah pertemuan syahdu dan penuh cinta, keseruan yang mungkin tak bisa diucapkan dalam banyak kata, karena sudah terpatri seperti saudara”.

  • KELAS INSPIRASI TRENGGALEK #4: SDN 4 WATUAGUNG



    Jeng. Jeng. Akhirnya anggota rombel SDN 4 Watuagung tatap mata secara langsung di Balai Desa Kedunglurah Pogalan. Anggotanya adalah (1) Panitia lokal : Bunga, Indah, Desyy, Esty dan Yuslim, (2) Relawan pengajar: Yunari, Imas, Wiwin, Darus, Elfira dan Maksum, (3) Relawan dokumentator: Slimin, Any, Nandy dan Ilutdh. Ada kejadian unik waktu awal ketemu, Kak Nandi dan Kak Yuslim membahas seseorang perempuan bertopi hitam dengan paras yang cantik di grup WA ternyata perempuan itu adalah Kak Yunari anggota se-rombel. Ketahuan kalau dia anggota se-rombel karena setelah acara pembukaan HI, dikelompokkan ke masing-masing rombel. Hahaha. Pengelompokkan masing-masing rombel bertujuan untuk saling kenal, dan pembahasan pemberangkatan rombel dengan hasil dua kloter pemberangkatan. Kloter pertama menikmati indahnya sunset di Watuagung sedangkan kloter kedua menikmati gelapnya malam.

    Malam hari di Watuagung, kami bercerita tentang apa yang dilakukan keesok harinya dengan hidangan khas desa, makan malam dengan lauk tongkol super pedas dan kopi. Uhhh enak dan keseruan itu membangun chemistry diantara kami. Oh iya, kami bermalamnya di SDN 4 Watuagung. Ternyata beberapa anggota Rombel kami, ada yang bisa melihat makhluk halus disekitar sana. Anehnya itu bukan membuat kami takut tetapi membuat keseruan untuk dibahas lebih lanjut. Tak terasa malam semakin larut dengan dinginnya semilir angin Watuagung. Kami memutuskan untuk tidur dan keesok harinya sepakat untuk merasakan nikmatnya sunrise. Ternyata apa yang kami sepakati melihat sunrise hanya dalam mimpi karena kami mbangkong.

    Jeng. Jeng. Waktu inspirasi pun telah tiba. Dengan senyum kami yang menawan serta doa bersama, kami siap menginspirasi siswa-siswi di SDN 4 Watuagung. Tak lupa kami berkoordinasi dengan guru SDN 4 Watuagung yang diwakilkan oleh Pak Suroto. Saat upacara acara berlangsung, kami disambut dengan nyanyian yel-yel, serasa urat nadi kami merinding terharu. Seperti biasa acara upacara dimulai sambutan pihak sekolah dan rombel yang diwakili Kak Nandi, dilanjutkan perkenalan anggota rombel. Di acara inti upacara, siswa-siswi SDN 4 Watuagung menampilkan tarian Turangga Yaksa sebagai tarian khas Trenggalek dan kami ikut tarian tersebut dengan suka cita. Wah panitia lokal mengenalkan budaya ke relawan dari berbagai daerah, Is wonderful Trenggalek guys.

    Waktunya menginspirasi. Siswa-siswi masuk ke dalam kelas masing-masing. Oh iya, ada salah satu kelas 2 yang mempunyai kebutuhan khusus sebut saja Hero. Kakak-kakak relawan pengajar masuk kedalam kelas, relawan dokumentator siap untuk mendokumentasikan kegiatan sedangan panitia lokal siap membantu yang diperlukan. Acara inti Inspirasi tidak kami ceritakan guys, intinya “sangat menginspirasi”. Kalau tidak percaya silahkan gabung menjadi panitia lokal Kelas Inspirasi Trenggalek #5 guys. Pendaftaran masih dibuka sampai tanggal 16 September 2018.

    Oh ini sedikit penggalan kata inspirasi yang membuatmu baper, bukan hanya cintamu kepada dia yang perlu dicari melainkan perlu mencari minyak bumi sebagai energi untuk cintamu kepada dirinya.  Haduuuuuuhhhhhhh.

    Pada Kelas Inspirasi Trenggalek #4 memiliki konsep yang sedikit berbeda dari sebelumnya yaitu adanya permainan Tradisional di kegiatan Inspirasi. Ada 3 permainan tradisional yang kami lakukan yaitu (1) Cublak-cublak Suweng yang bertujuan mendekatkan indahnya kebersamaan dalam permainan. (2) Gobak Sodor yang bertujuan kerjasama tim, kecepatan, keakuratan dan kemenangan. (3) Ular Naga yang bertujuan keseruan nyanyian dalam permainan. Konsep yang sedikit berbeda ini membuat kesan tersendiri untuk relawan dan siswa-siswi. Setelah kegiatan inspirasi di kelas, siswa-siswi menuliskan cita-cita mereka didalam kertas kemudian ditempelkan pada banner. Ada cerita yang mengharukan disini, dimana saat Hero menempelkan cita-citanya menjadi polisi. Meskipun dia memiliki keterbelakangan tetapi tidak putus asa untuk meraih mimpi yang dicita-citakan. Ah lagi-lagi moment yang mengharukan.  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”QS 13:11

    Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tak cukup rasanya satu hari memberikan inspirasi anak-anak untuk punya masa depan lebih baik. Karena kami harus bangun mimpi-mimpi dan harapan mereka kedepannya. Kami semua menuju ke halaman sekolah untuk melakukan perpisahan. Upacara perpisahan pun berlangsung, dimulai dengan kesan-pesan relawan serta perwakilan dari sekolah terhadap jalannya kelas inspirasi. Air mata, senyuman dan pelukan erat antar siswa dengan relawan menjadi pemandangan. Seperti biasa, kami berkumpul untuk berfoto bersama dan melemparkan holly powder ke awan sebagai langkah simbolis perpisahan.. Terima kasih banyak buat pihak sekolah SDN 4 Watuagung,  para Inspirator yang sangat menginspirasi, dan panitia lokal Kelas Inspirasi yang telah berjuang dengan keras. Semoga usaha kita buat anak-anak akan sangat bermanfaat. Aamiin

  • Keseruan Permainan Tradisional KIGA#4


    Dari Abu Hurairah r.a, ujarnya : ketika orang-orang Habsyi bermain tombak di hadapan Rasulullah saw, tiba-tiba datang Umar bin Khattab r.a lalu ia mengambil batu-batu kecil dan mereka dilontari dengan batu-batu tersebut. Rasulullah saw bersabda : “ biarkanlah mereka bermain hai Umar” . HR. Bukhari (Jurnal al-afkar vol.III No.1,april 2015)

    Dengan demikian bermainpun diperkenankan dalam ajaran islam, karena diperlukan dalam kehidupan manusia untuk memperoleh kesenangan. Tetapi, manusia tidak boleh melalaikan diri dan menyia-nyiakan waktu dalam bermain. Zaman sekarang, anak-anak sudah banyak yang tak mengetahui atau bahkan tak ingin tahu apa itu permainan tradisional. Mereka menganggap permainan tradisional adalah permainan yang kuno. Zaman dimana kebanyakan orang menyebut dengan Zaman now ini lebih banyak memanfaatkan teknologi, sampai anak-anak yang seharusnya memainkan permainan tradisional bersama teman-temannya malah sekarang asyik sendiri bermain gadget. Akibatnya, mereka menjadi kurang bergerak karena hanya duduk dan memandangi gadget. Kurang bergaul dengan teman di sekitar juga menjadi salah satu akibat karena mereka merasa nyaman dengan bermain gadget di rumah.

    Melihat keadaan seperti itu, panitia Kelas Inspirasi Trenggalek #4 memiliki ide untuk menjadikan permainan tradisional menjadi wajib dimainkan dalam pelaksanaan Kelas Inspirasi Trenggalek #4. Sabtu, 31 Maret 2018 Kelas Inspirasi Trenggalek #4 ini mengambil zona inspirasi di kecamatan watulimo. Watulimo dijadikan sebagai zona inspirasi karena Watulimo memiliki daya tarik wisata trenggalek, selain  itu memang karena pada Kelas Inspirasi #4 ini mengambil tema “mengukir mimpi anak pesisir”, dan Watulimo merupakan salah satu daerah pesisir di Trenggalek.

     Ketika istirahat, kita bermain permainan tradisional di lapangan. Para relawan, serta anak-anak terlihat sangat menikmati permainan kucing dan tikus di lapangan yang  bisa di bilang tidak begitu luas. Fasilitator dan relawan asyik bermain dengan siswa-siswi disana. Karena terlalu asyiknya mereka bermain permainan tradisional, mereka sampai lupa kalau mereka sudah dewasa. Wkwkw. Mereka juga telah melupakan apa profesi mereka ketika itu, mereka terlihat ikhlas menghibur dan bermain dengan anak-anak. Para relawan mungkin juga merindukan masa kecil mereka yang pada zaman mereka kecil dulu masih banyak bermain permainan tradisional, bukan bermain gadget seperti kebanyakan anak zaman now. Naaahh.. di Kelas Inspirasi Trenggalek #4 inilah mereka bisa mengobati rindu mereka dengan permainan tradisional.

    Guru-guru melihat keseruan kami dari kantor dan sesekali melihat dan mendekat. Dalam hati aku yakin, guru-guru pun ada keinginan untuk bermain bersama kami, hanya saja terhalang beberapa faktor, makanya mereka melihat saja dengan tersenyum manja. Hhhh.  Aku juga yakin, Bapak Ibu guru akan bahagia ketika melihat kita bahagia. Heheee..

    Saat itu cuaca bisa di bilang plin plan, sesekali hujan deras, lalu cuaca panas lagi, kemudian langit mulai mendung dan hujan turun lagi. Karena itu, membuat lapangan tempat bermain basah dan tergenang air. Berlari, mengejar, teriak, berputar, dilakukan untuk memenangkan permainan. Ada juga yang saking semangatnya untuk menang, ada siswa sampai terpeleset dan terjatuh. Tapi dia langsung bangkit dan tak memikirkan luka yang ada di kakinya, luka itu terlihat berdarah karena memang celana anak SD pendek. Terlihat pringisan memang, tapi dia tidak nangis (mungkin kalo nangis dia malu. Hehe). Kasihan juga melihat anak itu, tapi ketika disuruh berhenti dia tetap ingin bermain. Yaaa..sudah akhirnya kita bermain lagi sampai bel tanda masuk kelas lah yang membuat kita berhenti bermain dan kembali ke kelas.

             Tak banyak memang permainan tradisional yang bisa kita mainkan karena keterbatasan waktu, tapi itu sudah membuat semua bahagia. Tak ada siswa atau siapapun yang terlihat murung saat itu. 1 fasilitator yang pusing mikir kesuksesan acara pun ikut bermain dan senang saat itu. :-D Memang rasa bahagia tak bisa disembunyikan, terlihat dari raut wajah para relawan, siswa-siswi, serta guru yang terlihat ceria dan tampak senyum manis di bibir mereka. Aiiiiihhh..:d Perlu diketahui juga kalau bermain permainan tradisional selain menimbulkan rasa bahagia, juga memiliki banyak manfaat untuk anak-anak. Diantaranya melatih anak untuk kerjasama, mengembangkan sikap empati anak, melatih menaati peraturan, melatih kepekaan untuk menghargai sesama teman, dan juga agar anak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi manfaat yang lain.

             Sering ketika anak sedang bermain game di gadgetnya setiap akan kalah, mereka malah me-reset dan mulai dari awal lagi. Ini ni.. ini.. justru ini tak melatih kesabaran dan tidak menaati peraturan. Bagaimana pun, permainan tradisional memang harus tetap dimainkan oleh anak-anak. Selain untuk mendapatkan banyak manfaat, juga agar tidak punah. Yaa.. mungkin salah satu cara agar anak-anak mengenal permainan tradisional adalah lewat sekolah, seperti yang dilakukan Kelas Inspirasi Trenggalek #4 ini.. (April)

    SIMPAN GADGETMU !! AYO BERMAIN PERMAINAN TRADISIONAL !!
  • Hari Inspirasi KIGA#4



    Memberikan inspirasi kepada sesama adalah sesuatu yang amat melegakan dalam diri. Setidaknya sudah memberikan secercah semangat untuk membangkitkan motivasi dalam diri seseorang. Dalam perjalanan mencapai hari H, merupakan proses yang cukup melelahkan. Cukup menguras tenaga, pikiran dan mungkin hati. Ditambah lagi kita bukanlah orang-orang yang free dalam artian kita juga seorang pekerja yang sibuk dalam dunia kerja masing-masing. Namun, kita harus profesional dengan tetap semangat mensukseskan hari inspirasi. Siap merelakan waktu libur kita untuk memikirkan dan mempersiapkan kesuksesan Hari Inspirasi. Ada kelegaan tersendiri yang dirasakan panitia saat mampu melewati lelah yang membanggakan dalam waktu yang cukup panjang. Ketika dalam perjalanannya menemui berbagai susah senang, pusing yang mungkin melanda saat belum menemui titik penyelesaian. Namun, saat mencapai hari H dengan bahagia menebah dada wujud syukur atas perjalanan yang mempu tercover dengan sukses.

    Bagi orang lain, mungkin terbesit pertanyaan. Apa yang kami dapatkan dari lelahnya dalam kegiatan hari inspirasi? Jawabannya adalah terletak di hati. Kita hanyalah orang biasa, namun kita menjadi bagian dari pemuda bangsa yang peduli dengan persoalan sosial sekitar dan peduli akan masa depan bangsa. Kita mampu mendatangkan para profesional yang memberikan motivasi kepada anak-anak untuk bercita-cita lebih tinggi hingga mereka mempunyai alasan kenapa aku harus sekolah setinggi-tingginya. Tidak ada lagi pikiran dalam diri anak-anak untuk cukup sampai disini saja sekolah, aku sudah mampu mencari uang dengan aku merantau, jadi TKW, atau aku sudah cukup jadi buruh saja. Tapi mempu mendorong anak-anak berfikir, aku nanti ingin jadi sesuatu yang mengharumkan bangsaku. Kita sebagai panitia bukankan amat senang yang luar biasa, jika kita merupakan bagian dari pendorong terbentuknya generasi milinium bangsa untuk  masa depan.

    Disisi lain kita memberikan kesempatan kepada para profesional untuk menyentuh dunia pendidikan dan dunia anak-anak. Berinteraksi dengan anak-anak yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Membuka hati mereka untuk saling memberi. Bahkan kepada mereka-mereka yang belum tahu arti menyiapkan generasi masa depan, dari hari inspirasi ini membuka mata mereka dan berguman tentang mulianya mengajar. Atau disisi lain, mereka mengetahui kondisi sosial saat ini ketika sasaran kita adalah sekolah-sekolah pelosok. Memberikan pelajaran bahwa kita yang mampu harusnya lebih meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak bangsa yang sejatinya membutuhkan kita sebagai pemuda bangsa untuk memberikan kotribusi nyata untuk mereka. Tanpa disadari kesempatan yang dapat kita raih ini adalah hal berharga yang memang tidak semua orang dapat memperolehnya. Kita sebagai panitia telah memberikan kesempatan kepada para profesional untuk memperoleh pengalaman mengajar di kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. (Savitri)
  • Pendaftaran Relawan Kelas Inspirasi Trenggalek #5

    ADDRESS

    -8.049036, 111.709201

    EMAIL

    inspirasi.trenggalek@gmail.com

    MOBILE

    April 0856 0460 0024,
    Jihan 0856 4915 9822