• Kelas Inspirasi Trenggalek #4: Rombongan Belajar SDN 3 Karanggandu



    Salah satu surel yang diterima pada 03 Maret 2018 merupakan surel yang menggembirakan bagi para terpilih menjadi relawan dalam Kelas Inspirasi Trenggalek 4. Itu lah kami, 15 orang muda mudi (terdiri dari 10 relawan pengajar dan 5 relawan dokumentator) yang dikumpulkan dalam sebuah grup whatsapp oleh 4 fasilitator, untuk rombel SDN 3 Karanggandu. Dan….di balik setiap kegiatan yang memungkinkan kita bertemu dengan orang-orang baru dalam kelompok, akan timbul pertanyaan “siapa yang akan ditemui nanti? apa profesi rekan-rekanku? mau terlibat seperti apa aku dalam kelompok? sudahkah aku mempersiapkan mental dan metode yang tepat untuk menyampaikan profesiku?”, juga…jujurlah wahai pemuda pemudi bahwa mungkin saja terdapat pertanyaan “akankah aku bisa memiliki teman-teman baru, relasi baru, pacar baru (*ups…), atau…….. mungkin jodoh?”. Akh….ini pasti akan menjadi topik bully atau bahkan bisa menjadi kenyataan nantinya, he he.

    Pembahasan demi pembahasan kami jalani secara “long distance communication” (bukan LDR yes…). Dimulai dengan aturan percakapan, pembentukan ketua dan lainnya, pengemasan acara, penanggung jawab, pembagian tugas perlengkapan, dan lain-lain. Semuanya berjalan lancar dan akur karena bisa saling percaya, walaupun pada saat mendekati hari keberangkatan, terdapat 2 relawan pengajar yang mengundurkan diri. Dan jadilah kami menjadi 13 orang relawan, dengan mayoritas profesi dan asal keberangkatan berbeda-beda.

    Singkat cerita, 30 Maret 2018 kami berangkat menuju Trenggalek untuk pelaksanaan briefing akbar. Kak Candra mengarungi ribuan kilometer melalui rel-rel kereta api yang lebarnya hanya 143,5 cm, dari bumi Jawa Barat, yang sebelumnya sempat jalan-jalan ke Kertosono; Kak Cicil (sendirian) yang sempat “linglung” dengan istilah “bangjo” dan Kak Nanda (bersama teman dari rombel lain) yang sempat kelaparan karena belum sarapan, menggunakan bus estafet dari Terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya – Terminal Tulungagung – bangjo Kedunglurah, Trenggalek dengan tingkat kesesakan khas high season karena sedang libur tanggal merah. Bagi yang tidak terbiasa dengan kata “bangjo”, berikut penjelasannya: “bangjo = abang ijo = merah hijau = lampu merah = light traffic, panjang ya. Ada juga Kak Aryo dan Kak Dwi yang berangkat dari Wonogiri pada Pkl. 07.00 WIB, menggunakan sepeda motor mendaki bukit mengarungi lembah. Walaupun sempat nyaris “nyasar” ke Kediri, namun pada akhirnya selamat tiba di lokasi pada Pkl. 11.00 WIB. Sebegitu cepatnya waktu tempuh, rupanya mereka menggunakan kecepatan 80 – 100 km/jam, bisa jadi sebenarnya mereka adalah “unpublished racer” he he he. Ada juga Kak Intan yang berangkat dari Kediri menggunakan sepeda motor berbarengan dengan rekan-rekan relawan dari rombel lain, wonder woman bukan? Kak Lian yang seorang wanita dan berasal dari Trenggalek juga menggunakan sepeda motor. Juga kisah-kisah seru perjalanan Kak Zain, Kak Irul (Surabaya), Kak Wisang (Malang), Kak Hery (Pacitan), serta Kak Fintya (Trenggalek) yang semuanya tiba di lokasi dengan selamat. Disinilah kami, yang pada akhirnya bisa saling mengenal secara fisik (positif thinking, please). Dihitung-hitung, rupanya kami ketinggalan 1 orang, ya, rupanya Kak Munica dari Kediri belum tiba, informasinya akan menyusul. Jika demikian adanya, maka selesai briefing kami pun berangkat menuju lokasi inspirasi bersama-sama menggunakan mobil sponsor dadakan tanpa proposal (alias numpang) dari Kak Fintya dan Kak Hery.

    Sepanjang perjalanan kami dibuat kagum, bukan hanya pemandangannya tapi juga jalannya yang meliuk-liuk curam dan terjal. Tersihir oleh pemandangan yang indah-indah, kami mulai teracuni untuk singgah ke pantai Damas, merencanakan untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Dan…disinilah kami mendamparkan diri di pantai tenang dengan pasir putih dan deretan pohon kelapa, yang rupa-rupanya bukan spot yang tepat untuk menyaksikan matahari terbenam karena berada di arah yang berlawanan. Namun demikian, kami masih bisa menyaksikan biasan warna jingga kemerahan di langit dari kombinasi hamburan rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi, yang menandakan matahari dalam proses terbenam di ufuk barat. Lalu kami menikmati indahnya bulan purnama yang memantulkan cahayanya di pantai ini. Pada saat-saat indah yang demikian, kami teringat pada 3 relawan bersama Kak Denok selaku fasilitator, dan Kak Abid sebagai suhu arah yang masih berada di jalan dengan sepeda motor, serta Kak Hery dan Kak Karin yang tadinya mengambil konsumsi, ups... Kami tersadar bahwa kami belum terkumpul sepenuhnya, dan kami juga sangat sadar bahwa kelompok ini super narsis hingga tenda dan api unggun yang dibuat oleh para muda-mudi yang kami temui disanapun kami jadikan landscape untuk berfoto ria. Sambil terus berkomunikasi menyampaikan lokasi keberadaan, pada akhirnya mereka menemukan kami dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi menginap (rumah warga) setelah menjalankan ibadah shalat magrib. Jalan menuju lokasi cukup sempit dan terjal, sehingga sangat menantang, terlebih mobil yang kami tumpangi memiliki badan yang cukup besar dan panjang, namun demikian kami tiba dengan selamat. Selepas berkenalan dengan pemilik rumah, tim kami bekerjasama untuk menyelesaikan segala perlengkapan acara untuk besok harinya. Merasakan ada yang kurang, kami mengingat kembali bahwa Kak Munica belum juga tiba. Beliau mengabarkan bahwa akan hadir besok langsung di sekolah sebelum acara dimulai. Baiklah….kami percaya bahwa ia akan menemukan jalan menuju tempat ini dengan baik.

    31 Maret 2018, bangun subuh, mandi bergilir, air segar menggelegar ditambah pasokan udara sangat besar dari jendela kamar mandi. Kami siap, dan menuju sekolah. Berkenalan dengan pihak sekolah, acara pembukaan, hingga penggiringan siswa ke kelas berjalan dengan baik dan lancar. Dan salah satu kabar baik pagi itu adalah, Kak Munica tiba dengan selamat dalam balutan wajah sumringah khas traveler dan dalam penampakan sebagai seorang pria, kami panggil dia Kak Nico. Kemudian, masing-masing relawan memasuki kelas sesuai jadwalnya masing-masing, memberikan gambaran profesinya dan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mencapai cita-citanya. Sungguh bangga melihat para tunas muda ini tidak takut untuk memiliki cita-cita, diantaranya petani, koki, dokter, TNI, polisi, pembalap, guru, pilot, astronot, dan masih banyak lagi. Guru-guru pun tak kalah antusias, kami bahkan dijamu dengan bermacam-macam penganan seperti salak dan kripik tempe yang merupakan hasil lokal Trenggalek. Tim kami sepakat, bahwa berbagi kasih, inspirasi, dan motivasi dalam kegiatan ini nyatanya membawa keceriaan dan kebahagiaan bagi semua. Kak Lian membahasakannya sebagai energi positif, yang bukan hanya untuk para siswa, guru, namun juga bagi para relawan itu sendiri. Penutupan berjalan dengan lancar dan berkesan, dan disinilah kami mengerti bahwa sebagian besar manusia dalam kelompok kami adalah pecinta drama Korea, dan hasilnya “pose saranghaeyo”.

    Selepas kegiatan usai, kami kembali ke tempat menginap dan dari jarak 10 meter, kami bisa mencium aroma yang sangat familiar, yaitu durian. Akh…rupanya di teras telah tersedia durian masak dengan ukuran yang cukup besar. Apakah kami “jaim”? oh tentu saja tidak…alias langsung menyerbu, ha ha ha. Nikmatnya hidup di desa, bisa makan buah-buahan gratis, he he. Yup, tak bisa lama-lama karena kami harus segera menuju lokasi refleksi. Dan dalam perjalanan, kami harus berpisah dengan Kak Wisang dan Kak Intan yang memiliki rute berbeda. Namun rupanya (selalu saja)…kami singgah terlebih dahulu di Pantai Mutiara, bersenda gurau, berfoto ria, bahkan…ada yang sempat berenang. Hasilnya? Kami terlambat untuk mengikuti refleksi, he he. Namun demikian, semua berjalan lancar hingga saatnya kita berpisah, namun mayoritas tidak langsung kembali ke kota asal masing-masing, seperti Kak Cicil yang menginap di rumah Kak Lian dan sempat mencicipi nasi pindang, atau Kak Aryo, Kak Dwi, dan Kak Nanda yang juga jalan-jalan dulu menikmati alam Trenggalek dan kemudian mampir di rumah Kak Lutfi dengan keluarganya yang super ramah, serta menginap di rumah Kak Abid, sang fasilitator. Begitu pula Kak Zain yang masih akan mengarungi pantai-pantai Trenggalek bersama rekan-rekan dari rombel lain. Secara fisik saat itu kami berpisah, namun kami masih disatukan dalam grup WA yang tak pernah sepi he he, dan akan bertemu lagi di lain waktu di momen entah pribadi entah resmi, di lain tempat. Seperti kata Kak Aryo, “pertemuan kami adalah pertemuan syahdu dan penuh cinta, keseruan yang mungkin tak bisa diucapkan dalam banyak kata, karena sudah terpatri seperti saudara”.

  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Pendaftaran Relawan Kelas Inspirasi Trenggalek #5

    ADDRESS

    -8.049036, 111.709201

    EMAIL

    inspirasi.trenggalek@gmail.com

    MOBILE

    April 0856 0460 0024,
    Jihan 0856 4915 9822